Selasa, 29 Desember 2009

Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Indonesia Sesuai Dengan Ejaan yang Disempurnakan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA SESUAI DENGAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN


Disusun oleh :

MUHAMMAD NURUDDIN

071644036

PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

TAHUN 2009

A. JUDUL

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA SESUAI DENGAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

B. LATAR BELAKANG

Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Anak usia sekolah dasar pada umumnya belum fasih dan belum lancar berbahasa Indonesia baik segi penulisan maupun pelafalan. Dimasa itu perkembangan pengetahuan anak masih terfokus pada aspek menirukan, menghafal apa yang ada disekitar dimana anak itu berada. Seperti di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, dan di lingkungan masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berpengaruh secara langsung baik pengaruh positif maupun negative terhadap perkembangan anak pada aspek secara menyeluruh, seperti kemampuan membaca menulis dan sebagainya. Tak heran apabila mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD hingga lulus SMA. Dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara.

Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah sejak kelas 1 SD. Seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mereka memulai dari nol. Pada masa tersebut materi pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencakup membaca, menulis sambung serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan bebas hingga mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan gejala kejenuhan akan belajar Bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara isi dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang kemudian akan memupuk sifat menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia karena materi yang diajarkan hanya itu-itu saja.

Orang tua pun tidak punya banyak waktu untuk anak- anaknya. Pada jam pelajaran di sekolah terutama jam pelajaran bahasa Indonesia sangat terbatas sekali, lingkungan masyarakat juga kurang mendukung. Biasanya dalam masyarakat, kebanyakan masih menggunakan bahasa Jawa.

C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:

1. Apakah alokasi waktu pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah kurang?

2. Apakah ada kesalahan dengan pola pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah?

3. Bagaimana cara yang terbaik untuk mengajar dan belajar berbahasa Indonesia yang baik, mudah, dan menarik?

D.TUJUAN

Atas dasar judul MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA SESUAI DENGAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN. Tujuan rencana penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut:

1. Memperoleh gambaran tentang alokasi waktu yang dibutuhkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

2. Mempelajari dan mengungkapkan Apakah ada kesalahan dengan pola pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah.

3. Mengkaji Bagaimana cara yang terbaik untuk mengajar dan belajar berbahasa Indonesia yang baik, mudah, dan menarik.

E. MANFAAT

Dalam rencana penulisan karya ilmiah yang berjudul “MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA SESUAI DENGAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN.” mempunyai manfaat secara umum atau khusus. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Secara umum, hasil rencana penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para guru yang mengajar di kelas

2. Secara khusus manfaat laporan ini adalah :

2.1.Bagi penulis, penulisan ini merupakan suatu wadah untuk mengaktualisasikan kreativitas dan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kemampuan penulis didalam rencana penulisan karya ilmiah.

2.2.Bagi penulis yang akan datang, rencana penulisan karya ilmiah. ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi penulis selanjutnya.

2.3.Bagi guru, dapat memberikan apa yang terbaik bagi siswa didiknya ketika melaksanakan proses KBM dalam kelas.

Bagi instansi lain, penulisan yang dilakukan mahasiswa, termasuk penulisan dalam rencana penulisan karya ilmiah ini sangat bermanfaat bagi dinas pendidikan ketika akan memberikan pengarahan atau mensosialisasikan tentang garis besar apa yang harus dilakukan oleh guru ketika mengadakan proses KBM.

F. KAJIAN TEORI

Mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia diberikan sejak masih di bangku SD hingga lulus SMA. Dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara Logikanya, mereka merasakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bangku sekolah. Selama itu pula mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak pernah absen menemani mereka.

Tetapi, luar biasanya, kualitas berbahasa Indonesia para siswa masih saja jauh dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Yaitu untuk dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan apalagi tulisan yang klise masih saja terlihat. Seolah-olah fungsi dari pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak terlihat maksimal.

Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah cenderung konvesional, bersifat hafalan, penuh jejalan teori-teori linguistik yang rumit. Serta tidak ramah terhadap upaya mengembangkan kemampuan berbahasa siswa. Hal ini khususnya dalam kemampuan membaca dan menulis. Pola semacam itu hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar bahasa Indonesia. Pada umumnya para siswa menempatkan mata pelajaran bahasa pada urutan buncit dalam pilihan para siswa. Yaitu setelah pelajaran-pelajaran eksakta dan beberapa ilmu sosial lain. Jarang siswa yang menempatkan pelajaran ini sebagai favorit. Hal ini semakin terlihat dengan rendahnya minat siswa untuk mempelajarinya dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Melihat adanya metode pengajaran bahasa yang telah gagal mengembangkan keterampilan dan kreativitas para siswa dalam berbahasa. Hal ini disebabkan karena pengajarannya yang bersifat formal akademis, dan bukan untuk melatih kebiasaan berbahasa para siswa itu sendiri.

Setelah melihat pada ilustrasi dari pola pengajaran tersebut kita melihat adanya kelemahan - kelemahan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah. KBM belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa, namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru bahasa Indonesia. Sedangkan pelatihan berbahasa yang sifatnya lisan ataupun praktek hanya memiliki porsi yang jauh lebih sedikit. Padahal kemampuan berbahasa tidak didasarkan atas penguasaan materi bahasa saja, tetapi juga perlu latihan dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Tips yang terbaik untuk mengajar dan belajar berbahasa Indonesia yang baik , mudah dan menarik , sebagai berikut :


- Melalui percakapan , puisi , drama , berpantun , bercerita , berpidato, dan membaca , untuk menampilkan anak - anak. Guru harus benar - benar sudah mempersiapkan pokok bahasan yang akan diajarkan berupa naskah. Selanjutnya mengadakan latihan - latihan yang sudah dilakukan oleh anak - anak . Bilamana perlu, bisa ditampilkan melalaui kegiatan panggung yang diselenggarakan di sekolah atau dilombakan .Dengan cara tersebut di atas disamping mendidik anak - anak untuk berani tampil sekaligus menjadikan anak tersebut lebih percaya diri.
- Pengajaran Bahasa Indonesia di kelas I dan II ditekankan pada bentuk tulisan ,membaca, dan pemahaman tiap kata . Kalau siswa sudah mampu menguasai
perbendaharaan
kata yang banyak dan sudah bisa membuat kalimat sendiri maka siswa tersebut baru bisa membuat karangan singkat dari buku yang pernah mereka baca.
- Tulisan siswa Kelas I dan II masih cenderung kurang bagus , guru harus bisa melatih siswa untuk menulis tegak bersambung yang baik dan benar . Bila tulisan anak sudah cukup baik dan benar maka dengan mudah guru mengajak siswa untuk belajar Bahasa Indonesia
- Metode permainan , seperti : teka teki silang dan kata berkait
- Mengadakan kunjungan rutin ke perpustakaan sekolah , siswa dapat membaca dan meminjam buku - buku yang bermanfaat sekaligus menambah pengetahuan mereka

G. METODOLOGI

1. Rencana Penulisan

Rencana adalah seperangkat wawasan filosofis yang berkaitan dengan hakekat fakta yang akan digarap dan gambaran cara yang akan digunakan untuk menangkap dan memakainya. Rencana penulisan yang berbeda akan menghasilkan penafsiran yang berbeda. Rencana penulisan yang digunakan adalah rencana penulisan kuantitatif.

2. Populasi dan Sampel

Populasi artinya komponen dari bagian yang akan ditulis, disini populasi adalah semua individu, barang atau peristiwa yang ada pada daerah penulisan karya ilmiah dimana kenyataan- kenyataan yang diperoleh dari sample itu akan digeneralisasikan. Dalam rencana penulisan karya ilmiah ini yang akan digeneralisasikan adalah prosedur metodologi yang tepat, yaitu menentukan populasi lebih dahulu secara tegas, memuat batas dan luas populasinya. Menurut Winarno Surahmad, Dasar & Teknik Research, Pengantar metodologi Ilmiah, menyatakan :

“Populasi adalah semua individu, untuk siapa kenyataan yang diperoleh dari sampel itu digeneralisasikan”.(Winarno Surahmad, 1979 : 82).

Sebagaimana pengertian populasi tersebut diatas, maka populasi yang dimaksud ialah suatu kesatuan dari individu tertentu yang dijadikan obyek penulisan. Adapun luas dan batasnya populasi dalam rencana penulisan karya ilmiah ini adalah siswa di SDN Kedunggede I, Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto.

Untuk menentukan jangan sampai terjadi rencana penulisan karya ilmiah yang kurang terarah pada obyek dan tujuan, maka penulis sebenarnya dalam rencana penulisan karya ilmiah perlu menggunakan penarikan sample.

“Penarikan sample adalah penarikan sebagian populasi untuk mewakili seluruh populasi yang ada dalam obyek rencana penulisan karya ilmiah”. (Winarno Surahmad, 1975 : 82).

Setelah mengetahui penjelasan masalah sampel tadi, penulis melihat kepada obyek yang ditulis untuk menentukan sampelnya dalam rencana penulisan karya ilmiah. Dalam rencana penulisan karya ilmiah ini penulis mengambil 20 siswa di SDN Kedunggede I, Kec. Dlanggu, Kab. Mojokerto.

H. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH

1. Rencana Awal

- Mengambil gambaran dari hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD.

- Bagaimana menerapkan kemampuan berbahasa indonesia dengan ejaan yang disempurnakan.

2. Tindakan

- Memberikan pengarahan dan menekankan pada bentuk tulisan ,membaca, dan pemahaman tiap kata sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

3. Pengamatan

- Kebanyakan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kurang memperhatikan teknik penulisan yang sesuai dengan ejaan yang sudah disempurnakan.

4. Refleksi

- Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa indonesia sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Guru Bahasa Indonesia harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan.

I. TEKNIK ANALISIS DATA

Analisis data dilakukan secara berkesinambungan mulai awal hingga selesainya penulisan karya ilmiah secara bersamaan. Dari tes menulis dinilai berdasarkan lima unsur: tulisan tangan (menulis rapi), ejaan, tanda baca, panjangnya karangan, dan kualitas bahasa yang digunakan. Bobot dalam semua skor adalah tulisan (15%), ejaan (15%), tanda baca (15%), panjang tulisan (20%), dan kualitas tulisan (35%).

J. PENGOLAHAN DATA

Setelah data terkumpul maka selanjutnya diadakan identifikasi dan diolah untuk mendapatkan hasil secara kuantitatif.

Hanya 19% anak bisa menulis dengan tulisan tegak bersambung dan rapih. Sedangkan 64% bisa membaca rapih tetapi tidak bersambung.
Hanya 16% anak menulis tanpa kesalahan ejaan dan 52% anak bisa menulis dengan ejaan yang baik (sebagian besar kata dieja dengan benar), sementara lebih dari 30% dari kasus menulis dengan kesalahan ejaan yang parah atau sangat parah. 58 % anak memberi tanda baca pada tulisan mereka dengan baik (dikategorikan bagus atau sempurna), sementara itu lebih dari 35% kasus anak yang menulis dengan kesalahan tanda baca dan dikategorikan kurang atau sangat kurang. 58% siswa menulis lebih dari setengah halaman dan 44% siswa isi tulisannya yang dinilai baik, yaitu gagasannya diungkapkan secara jelas dengan urutan yang logis. Pada umumnya anak kurang dapat mengelola gagasannya secara sistematis.

K. KESIMPULAN

Alasan mengapa begitu banyak anak yang mengalami kesulitan dalam menulis karangan dengan kualitas dan panjang yang memuaskan serta dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang memadai ialah anak-anak di banyak kelas jarang menulis dengan kata- kata mereka sendiri. Mereka lebih sering menyalin dari papan tulis atau buku pelajaran. Dari data tersebut menggambarkan hasil dari KBM Bahasa Indonesia di SD masih belum maksimal. Walaupun jam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri memiliki porsi yang cukup banyak.

Selain itu, siswa dan guru memerlukan bahan bacaan yang mendukung pengembangan minat baca, menulis dan apreasi sastra. Untuk itu, diperlukan buku-buku bacaan dan majalah sastra (Horison) yang berjalin dengan pengayaan bahan pengajaran Bahasa Indonesia. Kurangnya buku-buku pegangan bagi guru, terutama karya-karya sastra mutakhir (terbaru) dan buku acuan yang representatif merupakan kendala tersendiri bagi para guru. Koleksi buku di perpustakaan yang tidak memadai juga merupakan salah satu hambatan bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah perpustakaan sekolah hanya berisi buku paket yang membuat siswa malas mengembangkan minat baca dan wawasan mereka lebih jauh.

L. DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud

Sutrisno, Hadi. 1991. Metodologi Research 2. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM

www.google.com_bahasa Indonesia sesuai EYD

www.google.com_kesulitan berbahasa Indonesia

www.google.com_materi inti sd

www.wikipedia.org_bahasa Indonesia sekolah dasar

1 komentar:

andiyani mengatakan...

tulisanya kok ga klihatan gni.ga bsa dibca.

Poskan Komentar